| yakult | yatun |
| bagus | dadus |
| telor | eyon |
| copot | pecop |
| ibu | embuk |
| buka | duta |
| kuda lari | duda yayi |
| mobil | mubin |
| jagung | dadun |
| mainan | manam |
| kuping | upin |
| puser | uden |
| Allahu akbar | awo aban |
KIN n KAT
Kamus Bahasa KAT
pagi indah
Jarak dari rumah kpasar ga jauh skitar 200m, jd masi bisa jalan kaki.
Abis dari t4 pembuangan sementara lgs ke pasar. Yg ku beli cuma lauk matang bwat kami sarapan. Aku langsung pulang.
Tp bress.. Hujan lebat datang tiba tiba. Aku minggir mencari t4 bteduh. Bareng sama pdagang2 dan ibu2 yg terjebak hujan. Skitar 10menit aku cuma diam bdiri di bwah lapak pdagang sayur. Wah laper neh, paling kanjeng drumah merasakan hal yg sama.
Aku nekat menerobos hujan. Beberapa mata melihatku aneh. Mungkin pikir mereka 'ini bunting nekat amat'. Aku terus berjalan, bajuku stengah basah. Tpi dari arah berlawanan aku melihat sosok jangkung dengan payung kuning bjalan ke arahku.
'kanjeng??'
kanjeng menjemputku, tanpa aku minta, tanpa aku bilang posisiku dimana. Seandainya aku masi dbwah lapak blum tentu menemukanku. Dan meringkuk dbawah selimut 100x lebih nyaman daripada berjalan menerobos hujan untuk menjemputku.
Aku masi terharu ktika kanjeng menarik bdanku mendekat agar tdak tkena cipratan aer.
Aku lupa kapan terakhir kali kanjeng bilang cinta. Tapi cinta bisa bicara tanpa kata.
RF Manager di balik selimut
Pagi pagi, aku menyiapkan sarapan, ibuku menggendong ade, say masih tidur berselimut rapat. aku heran, tak biasanya dia memakai selimut.
"SAy.. sarapan", sarapan siap, aku kembali membangunkan say.
"Aku tidur bentar lagi ya??" Dia menongolkan kepalanya, menjawab pertanyaanku dan kembali meringkuk di dalem selimut.
Aku curiga, "hayo di dalem ngapaiN??'"
"Gw buka neh"
"jangan" dia memper erat selimutnya. tapi bagian punggung dia tersingkap. dia tak sadar ketika aku membukanya pelan pelan. Jempolnya asik di hp nya. mukanya kaget melihat selimut dia udah kebuka.
Ku melihat ke layar hp nya. Walah ngegame tho... ko ndadak slimutan..
tapi suer... aku masih inget muka inocenntya waktu slimutnya kebuka.. lov u say
DAN LAHIRLAH KINNARA (21 AGUSTUS 2010)
Jam 3 pagi, aku membangunkan kanjeng untuk sahur. Aku hampir ikutan makan kalo saja kanjeng tak mengingatkanku
”lho, bukannya kamu ga boleh makan???”
”O, iya,.” serta merta aku membatalkan suapan nasi ke mulutku. Hari ini jam 6 aku harus ke RS. Rencana jam 7 pagi adenya kat mau di keluarin alias di bedah alias aku harus menjalani operasi cesar. Aku ga tau pasti umur kehamilanku berapa tapi dokter bilang berat badan bayi sudah cukup umur untuk di keluarin. Perkiraan dokter sekitar 2,8 kg.
Jam 5.30 aku dan kanjeng berangkat dari rumah. Menitipkan Kat yang pulas ke embah yang datang dari pekalongan. Perlengkapan yang sudah kami siapkan beberapa hari sebelumnya kami bawa. Satu tas perlengkapan untuk baby kami dan satu tas perlengkapanku. Dingin menusuk selama perjalanan ke Rumah sakit, jalanan masih gelap, tapi lalu lintas tetap padat karena untuk ke Rumah sakit kami melewati jalan lintas sumatra.
Sampai di Rumah sakit aku langsung ke VK / ruang kebidanan, perawat disana menyuruh kami mengisi administrasi di resepsionis. Administrasi beres, kami diantar ke IGD. Sampai di IGD, perawat menanyaiku
“ada keluhan apa bu?”
“mau cesar” jawabku
“udah bukaan bu?”
“Belum mbak, tapi kemaren udah janji ama dokter indrawan”
Perawat itu masuk ke dalam memanggil dokter jaga di IGD “Dok, ada yang mau SC”
Dokter itu menanyaiku “ ada surat rujukan?”
Aku menggeleng, ”tapi kami udah janji kemaren” cepat-cepat aku menjawab.
Dokter itu menyuruhku berbaring di bed, memeriksa tekanan darahku, kemudian menyuruh perawat melakukan prosedur selanjutnya.
Perawat memasang infus di lengan kiriku. Aman, lancar aku tidak terlalu sakit pada bagian ini. Ketika dia memasang kateter wow.. sakit bercampur geli dan nyeri. Ini bukan kali pertama aku di pasang kateter. Waktu katara lahir aku juga harus di pasang kateter, tapi saat itu rasa mulas lebih dahsyat jadi sakit karena kateter ga seberapa.
”Gila, ini orang sehat dibikin sakit” aku berbisik ke kanjeng. Kanjeng melihatku cengar cengir. Membereskan baju bajuku yang tadi dilepas dan harus diganti dengan kain.
“Langsung ke kamar aja ya bu?” perawat mendorong bed ku keluar ruang IGD menuju kamar. Aku mengangguk lemah bagai tak berdaya. Padahal 100% sehat kecuali catéter ini yang Amat Sangat menggangguku.
Lama kami menunggu di kamar. Gelisah melanda. Jam tujuh sudah, Belum ada tanda tanda operasi bakal dimulai. Kanjeng menyuruhku menghubungi Dokter kandungan yang akan mengoperasi. Hampir setengah jam aku menimbang nimbang ponselku. Antara ya dan tidak, antara ragu dan malu. Akhirnya aku memberanikan mengirim sms ke si Dokter
“DOKTER, SAYA JADI SC JAM 7 DI YMC GA? NUNIK”
‘Derrr…derr..derr..der.. hp ku berbunyi . keluar tulisan : message not delivered to 081XXXXXXXXX. Thanx God, aku malah merasa lega sms ku ga sampai. Aku masih menghela nafas lega ketika seorang perawat masuk membawa kursi roda. “Ayo bu, ke ruang OK!”
Aku turun dari tempat tidur sambil memegangi kateter. Perawat membantuku memegang infus, dan menyuruh Kanjeng menyiapkan perlengkapan untukku dan baby kami sehabis operasi.
Dulu waktu kat lahir perpindahanku dari kamar ke ruang operasi pake tempat tidur, sekarang karena aku dalam kondisi sehat cukup pake kursi roda. Agak lama aku menunggu di ruang operasi. Menunggu mereka menyiapkan segalanya. Aku sendiri duduk di kursi roda, mengawasi perawat berseliweran. Jantungku dag dig dug kencang ga karuan. Ada banyak kemungkinan di depan. aku berharap terbaik untukku dan keluargaku. Aku bukannya takut mati, tapi aku masih ingin melihat senyum kat. Aku juga berharap bayi yang nanti keluar sehat dan baik baik saja. Aku menundukan kepala. Memohon pada Tuhan berulang-ulang dalam hati.
Semuanya siap, aku dipindah ke bed operasi. Tiga lampu di besar atasku. Jantungku berdetak lebih kencang lagi. Walo ini bukan yang pertama, tapi entah kenapa mentalku lebih siap yang sebelum ini. Petugas anastesi menghampiriku.
“Duduk ya bu, mau di bius” katanya
“Oc” aku langsung bangun dan duduk. Tanganku menggapai mencari pegangan. Seorang petugas mengerti maksudku. Dia memegangi tanganku. Cesss.. rasa dingin di punggungku. Cairan antiseptik di oleskan di sekitar area yang mau di suntik. Dan JLep.. Auw.. aku menahan jeritan dalam mulutku. Sakit, kalo dulu aku ga merasa sakit. Karena rasa mules mengalahkan segalanya. Kalo yang ini, bener dah,. Orang sehat dibikin sakit.
Aku berbaring lagi. Dari dada ke bawah aku mulai berasa aneh. Aku menggerakkan kakiku, ‘masih bisa’. Aku gerakkan lagi ‘masih bisa’, aku mulai berpikir yang tidak tidak. Jangan-jangan bius tadi kerjanya gak optimal, terus pas perutku di iris aku bakal ngrasa sakit luar biasa. Auwww, membayangkan saja aku sudah merasa sakit luar biasa. Detak jantungku makin kencang. Ah, biasanya sebelum operasi mereka pasti menyuruhku menggerakkan kaki, mereka bakal memastikan apa biusnya sudah bekerja atau belum. Aku mulai tenang.
Dokter dokter dan perawat siap di tempat operasi. Seseorang memasang penghalang di atas dadaku agar aku tidak melihat jalannya operasi. aku melirik ke atas, aku sebenarnya bisa sedikit mencuri lihat apa yang mereka lakukan di perutku dari lampu operasi. tapi aku tidak seberani itu kawan. Aku takut trauma dan gak doyan makan tujuh turunan setelahnya. Aku melirik lagi ke atas. Sepertinya mereka sudah mulai bekerja. ‘Hey, mereka lupa menyuruhku menggerakkan kaki untuk memastikan biusku bekerja atau tidak’aku berteriak dalam hati. Aku menggoyangkan kakiku sekuat tenaga. Berharap salah satu dari mereka melihatnya misal masih ada gerakan.
To BE CONTINUE
KAt (Refil asi)
dan lahirlah katara bukan kinnara part #7
Besoknya dari karang kami ke Bandar Jaya. Temenku bilang turun aja di masjid istiqlal depan pasar Bandar jaya, kalo sudah nyampe situ telp. Ancer-ancer yang gampang dan mudah di ingat.
Setelah sampai bandar kami di kenalin dengan ortu temenku. Mereka heran, bahwa kami tidak punya tujuan pasti dan tidak ada saudara di sini. Ketika di tanya kenapa memilih Lampung, kami bilang karena lampung itu udah luar jawa. Dan bekal kami Cuma sampai lampung. Mungkin kalo ada bekal lebih banyak kami bisa sampai batam.
Ortu temenku (pak Haji) menyuruh kami tinggal di rumahnya sambil mencarikan posisi yang pas buat kami. singkat cerita, kami pindah dari karang ke rumah temenku di bandar jaya. Kebetulan apotek temenku baru buka, jadi aku bekerja di situ. Sedang say kerja di dealer tempat suaminya.
Kebetulan temenku juga lagi hamil, selisih dua bulan dengan kehamilanku. Jadi kami bisa rujakan bareng, baca buku2 tentang kehamilan dan saling curhat tentang keluhan – keluhan kami selama hamil.
Ketika temenku lahiran, kehamilanku udah usia tujuh bulan. kami berencana untuk mengontrak rumah. Karena rikuh dan gak enak jika selamanya harus nebeng. Makan gratis dan segalanya gratis. Setelah mendapat rumah yang cocok walo agak masuk kampung, kami menyampaikan hal ini ke Pak Haji. Ternyata pak haji tidak memperbolehkan kami mengontrak rumah. Alasannya masuk di akal. Pertama, kalo mengontrak kami harus mengeluarkan duit lebih, kedua tempatnya jauh dari tempat kerja kami. ”nanti bapak cari tempat yang pas, jangan ngontrak dulu” kata beliau.
Pak Haji merehab salah satu rumahnya yang kosong.menyuruh tukang merapikannya. Dan yang membuat kami terharu, dipasang juga pompa air sehingga kami tidak perlu menimba. Bu Haji menyuruhku ke toko pecah belah dan toko mebelnya untuk melengkapi keperluan kami. “Bayarnya di cicil kalo sudah ada mbak, saya udah telp karyawan di toko”.
Pertama aku ke toko pecah belah. Aku pikir pasti hampir sejutaan buat beli perabotan dapur. Ternyata kami di kasih harga amat miring. Bermacam perabot termasuk kompor minyak, panci wajan, piring , gelas, sendok , garpu, ember, lap, sapu, pel, kursi kecil, telnan, piso, rak piring, gayung, bak, toples, pengki, galon, pompa galon, irus, sutil, sikat wc, setrika, spon, sikat cuci, sendok kayu, dll Cuma habis 349000. amat sangat murah. Aku masih menyimpan nota bertanggal 12 juli 2008 itu, yang juga hari pertama kami menempati rumah ini.
Kemudian aku ke toko mebel. Yang kami butuhkan Cuma lemari dan kasur. Untuk menghemat budget, kami kami tidak memakai tempat tidur. Tapi Bu Haji menelponku
Dan menerangkan bahwa untuk orang setelah melahirkan, dari berdiri dan kemudian tidur di bawah atau duduk di bawah itu susah. Jadi harus pake tempat tidur. ”kalo uangnya belum ada bayar belakangan gpp mbak”
To be continue
dan lahirlah katara bukan kinnara #6
karena kami belum sempet ke atm, maka kami tidak langsung melunasi sewa kos. kami membayar sepertiga dari uang sewa satu bulan. selama tiga hari yang kami lakukan adalah jalan mencari peluang yang bisa menghasilkan, maen ke pangkalan mie ayam mas yanto. kalo dipikir keadaanya serba kekurangan, duit makin menipis, tapi kami mencoba menikmatinya.
untuk makan kami menemukan warung nasi padang yang bungkusannya buanyaaaaaak banget. dimakan berdua pun kami kadang tidak sanggup menghabiskanyya. say juga mau bantuin yuci. pokoknya biarpun pas pasan tapi menyisakan banyak kenangan manis di memoriku.
tiga hari di kosan aku mencoba menghubungi temen kuliahku. ternyata dia gak tinggal di bandar lampung tapi di luar kota yaitu bandar jaya. aku menanyakan apa ada peluang untuk aku dan suamiku. karena dia tau basic ku maka aku cuma promosi tentang suamiku. bisa komputer, nyetir n mau kerja apa aja.
temenku bilang baru buka apotek, tapi uadah ada apotekernya. aku jawab kalo aku ga perlu jadi apoteker, jaga wartel juga gpp.
ga berapa lama temenku menjawab lewat sms 'ya udah, kebandar jaya aja ketemu bapakku.".. yeeee!!!!kami berjingklakan membaca sms itu. setidaknya ada harapan untuk menyambung hidup kami.
to be continue