Jam 3 pagi, aku membangunkan kanjeng untuk sahur. Aku hampir ikutan makan kalo saja kanjeng tak mengingatkanku
”lho, bukannya kamu ga boleh makan???”
”O, iya,.” serta merta aku membatalkan suapan nasi ke mulutku. Hari ini jam 6 aku harus ke RS. Rencana jam 7 pagi adenya kat mau di keluarin alias di bedah alias aku harus menjalani operasi cesar. Aku ga tau pasti umur kehamilanku berapa tapi dokter bilang berat badan bayi sudah cukup umur untuk di keluarin. Perkiraan dokter sekitar 2,8 kg.
Jam 5.30 aku dan kanjeng berangkat dari rumah. Menitipkan Kat yang pulas ke embah yang datang dari pekalongan. Perlengkapan yang sudah kami siapkan beberapa hari sebelumnya kami bawa. Satu tas perlengkapan untuk baby kami dan satu tas perlengkapanku. Dingin menusuk selama perjalanan ke Rumah sakit, jalanan masih gelap, tapi lalu lintas tetap padat karena untuk ke Rumah sakit kami melewati jalan lintas sumatra.
Sampai di Rumah sakit aku langsung ke VK / ruang kebidanan, perawat disana menyuruh kami mengisi administrasi di resepsionis. Administrasi beres, kami diantar ke IGD. Sampai di IGD, perawat menanyaiku
“ada keluhan apa bu?”
“mau cesar” jawabku
“udah bukaan bu?”
“Belum mbak, tapi kemaren udah janji ama dokter indrawan”
Perawat itu masuk ke dalam memanggil dokter jaga di IGD “Dok, ada yang mau SC”
Dokter itu menanyaiku “ ada surat rujukan?”
Aku menggeleng, ”tapi kami udah janji kemaren” cepat-cepat aku menjawab.
Dokter itu menyuruhku berbaring di bed, memeriksa tekanan darahku, kemudian menyuruh perawat melakukan prosedur selanjutnya.
Perawat memasang infus di lengan kiriku. Aman, lancar aku tidak terlalu sakit pada bagian ini. Ketika dia memasang kateter wow.. sakit bercampur geli dan nyeri. Ini bukan kali pertama aku di pasang kateter. Waktu katara lahir aku juga harus di pasang kateter, tapi saat itu rasa mulas lebih dahsyat jadi sakit karena kateter ga seberapa.
”Gila, ini orang sehat dibikin sakit” aku berbisik ke kanjeng. Kanjeng melihatku cengar cengir. Membereskan baju bajuku yang tadi dilepas dan harus diganti dengan kain.
“Langsung ke kamar aja ya bu?” perawat mendorong bed ku keluar ruang IGD menuju kamar. Aku mengangguk lemah bagai tak berdaya. Padahal 100% sehat kecuali catéter ini yang Amat Sangat menggangguku.
Lama kami menunggu di kamar. Gelisah melanda. Jam tujuh sudah, Belum ada tanda tanda operasi bakal dimulai. Kanjeng menyuruhku menghubungi Dokter kandungan yang akan mengoperasi. Hampir setengah jam aku menimbang nimbang ponselku. Antara ya dan tidak, antara ragu dan malu. Akhirnya aku memberanikan mengirim sms ke si Dokter
“DOKTER, SAYA JADI SC JAM 7 DI YMC GA? NUNIK”
‘Derrr…derr..derr..der.. hp ku berbunyi . keluar tulisan : message not delivered to 081XXXXXXXXX. Thanx God, aku malah merasa lega sms ku ga sampai. Aku masih menghela nafas lega ketika seorang perawat masuk membawa kursi roda. “Ayo bu, ke ruang OK!”
Aku turun dari tempat tidur sambil memegangi kateter. Perawat membantuku memegang infus, dan menyuruh Kanjeng menyiapkan perlengkapan untukku dan baby kami sehabis operasi.
Dulu waktu kat lahir perpindahanku dari kamar ke ruang operasi pake tempat tidur, sekarang karena aku dalam kondisi sehat cukup pake kursi roda. Agak lama aku menunggu di ruang operasi. Menunggu mereka menyiapkan segalanya. Aku sendiri duduk di kursi roda, mengawasi perawat berseliweran. Jantungku dag dig dug kencang ga karuan. Ada banyak kemungkinan di depan. aku berharap terbaik untukku dan keluargaku. Aku bukannya takut mati, tapi aku masih ingin melihat senyum kat. Aku juga berharap bayi yang nanti keluar sehat dan baik baik saja. Aku menundukan kepala. Memohon pada Tuhan berulang-ulang dalam hati.
Semuanya siap, aku dipindah ke bed operasi. Tiga lampu di besar atasku. Jantungku berdetak lebih kencang lagi. Walo ini bukan yang pertama, tapi entah kenapa mentalku lebih siap yang sebelum ini. Petugas anastesi menghampiriku.
“Duduk ya bu, mau di bius” katanya
“Oc” aku langsung bangun dan duduk. Tanganku menggapai mencari pegangan. Seorang petugas mengerti maksudku. Dia memegangi tanganku. Cesss.. rasa dingin di punggungku. Cairan antiseptik di oleskan di sekitar area yang mau di suntik. Dan JLep.. Auw.. aku menahan jeritan dalam mulutku. Sakit, kalo dulu aku ga merasa sakit. Karena rasa mules mengalahkan segalanya. Kalo yang ini, bener dah,. Orang sehat dibikin sakit.
Aku berbaring lagi. Dari dada ke bawah aku mulai berasa aneh. Aku menggerakkan kakiku, ‘masih bisa’. Aku gerakkan lagi ‘masih bisa’, aku mulai berpikir yang tidak tidak. Jangan-jangan bius tadi kerjanya gak optimal, terus pas perutku di iris aku bakal ngrasa sakit luar biasa. Auwww, membayangkan saja aku sudah merasa sakit luar biasa. Detak jantungku makin kencang. Ah, biasanya sebelum operasi mereka pasti menyuruhku menggerakkan kaki, mereka bakal memastikan apa biusnya sudah bekerja atau belum. Aku mulai tenang.
Dokter dokter dan perawat siap di tempat operasi. Seseorang memasang penghalang di atas dadaku agar aku tidak melihat jalannya operasi. aku melirik ke atas, aku sebenarnya bisa sedikit mencuri lihat apa yang mereka lakukan di perutku dari lampu operasi. tapi aku tidak seberani itu kawan. Aku takut trauma dan gak doyan makan tujuh turunan setelahnya. Aku melirik lagi ke atas. Sepertinya mereka sudah mulai bekerja. ‘Hey, mereka lupa menyuruhku menggerakkan kaki untuk memastikan biusku bekerja atau tidak’aku berteriak dalam hati. Aku menggoyangkan kakiku sekuat tenaga. Berharap salah satu dari mereka melihatnya misal masih ada gerakan.
To BE CONTINUE