http://www.blogger.com/html?blogID=5322368013306944336

pagi indah

td pagi kpasar, skalian buang sampah. Waktu mau brkt kanjeng masi tiduran. Ah biarlah, biasanya minta anter.
Jarak dari rumah kpasar ga jauh skitar 200m, jd masi bisa jalan kaki.
Abis dari t4 pembuangan sementara lgs ke pasar. Yg ku beli cuma lauk matang bwat kami sarapan. Aku langsung pulang.
Tp bress.. Hujan lebat datang tiba tiba. Aku minggir mencari t4 bteduh. Bareng sama pdagang2 dan ibu2 yg terjebak hujan. Skitar 10menit aku cuma diam bdiri di bwah lapak pdagang sayur. Wah laper neh, paling kanjeng drumah merasakan hal yg sama.
Aku nekat menerobos hujan. Beberapa mata melihatku aneh. Mungkin pikir mereka 'ini bunting nekat amat'. Aku terus berjalan, bajuku stengah basah. Tpi dari arah berlawanan aku melihat sosok jangkung dengan payung kuning bjalan ke arahku.
'kanjeng??'
kanjeng menjemputku, tanpa aku minta, tanpa aku bilang posisiku dimana. Seandainya aku masi dbwah lapak blum tentu menemukanku. Dan meringkuk dbawah selimut 100x lebih nyaman daripada berjalan menerobos hujan untuk menjemputku.
Aku masi terharu ktika kanjeng menarik bdanku mendekat agar tdak tkena cipratan aer.

Aku lupa kapan terakhir kali kanjeng bilang cinta. Tapi cinta bisa bicara tanpa kata.
Read More...

RF Manager di balik selimut

Say bener bener keranjingan ma game Real FOOtball (RF) manager. di kamar mandi makan, sebelum tidur, bangun tidur, bahkan sambil momong adek pun yang di pegang hp dan satu tangannya memainkan game tersebut. Ketika ibuku dateng dan menginap selama beberapa hari di rumah kami, say sedikit mengurangi kebiasaanya.
Pagi pagi, aku menyiapkan sarapan, ibuku menggendong ade, say masih tidur berselimut rapat. aku heran, tak biasanya dia memakai selimut.
"SAy.. sarapan", sarapan siap, aku kembali membangunkan say.
"Aku tidur bentar lagi ya??" Dia menongolkan kepalanya, menjawab pertanyaanku dan kembali meringkuk di dalem selimut.
Aku curiga, "hayo di dalem ngapaiN??'"
"Gw buka neh"
"jangan" dia memper erat selimutnya. tapi bagian punggung dia tersingkap. dia tak sadar ketika aku membukanya pelan pelan. Jempolnya asik di hp nya. mukanya kaget melihat selimut dia udah kebuka.
Ku melihat ke layar hp nya. Walah ngegame tho... ko ndadak slimutan..
tapi suer... aku masih inget muka inocenntya waktu slimutnya kebuka.. lov u say
Read More...

DAN LAHIRLAH KINNARA (21 AGUSTUS 2010)

Jam 3 pagi, aku membangunkan kanjeng untuk sahur. Aku hampir ikutan makan kalo saja kanjeng tak mengingatkanku

”lho, bukannya kamu ga boleh makan???”

”O, iya,.” serta merta aku membatalkan suapan nasi ke mulutku. Hari ini jam 6 aku harus ke RS. Rencana jam 7 pagi adenya kat mau di keluarin alias di bedah alias aku harus menjalani operasi cesar. Aku ga tau pasti umur kehamilanku berapa tapi dokter bilang berat badan bayi sudah cukup umur untuk di keluarin. Perkiraan dokter sekitar 2,8 kg.

Jam 5.30 aku dan kanjeng berangkat dari rumah. Menitipkan Kat yang pulas ke embah yang datang dari pekalongan. Perlengkapan yang sudah kami siapkan beberapa hari sebelumnya kami bawa. Satu tas perlengkapan untuk baby kami dan satu tas perlengkapanku. Dingin menusuk selama perjalanan ke Rumah sakit, jalanan masih gelap, tapi lalu lintas tetap padat karena untuk ke Rumah sakit kami melewati jalan lintas sumatra.

Sampai di Rumah sakit aku langsung ke VK / ruang kebidanan, perawat disana menyuruh kami mengisi administrasi di resepsionis. Administrasi beres, kami diantar ke IGD. Sampai di IGD, perawat menanyaiku

“ada keluhan apa bu?”

“mau cesar” jawabku

“udah bukaan bu?”

“Belum mbak, tapi kemaren udah janji ama dokter indrawan”

Perawat itu masuk ke dalam memanggil dokter jaga di IGD “Dok, ada yang mau SC”

Dokter itu menanyaiku “ ada surat rujukan?”

Aku menggeleng, ”tapi kami udah janji kemaren” cepat-cepat aku menjawab.

Dokter itu menyuruhku berbaring di bed, memeriksa tekanan darahku, kemudian menyuruh perawat melakukan prosedur selanjutnya.

Perawat memasang infus di lengan kiriku. Aman, lancar aku tidak terlalu sakit pada bagian ini. Ketika dia memasang kateter wow.. sakit bercampur geli dan nyeri. Ini bukan kali pertama aku di pasang kateter. Waktu katara lahir aku juga harus di pasang kateter, tapi saat itu rasa mulas lebih dahsyat jadi sakit karena kateter ga seberapa.

”Gila, ini orang sehat dibikin sakit” aku berbisik ke kanjeng. Kanjeng melihatku cengar cengir. Membereskan baju bajuku yang tadi dilepas dan harus diganti dengan kain.

“Langsung ke kamar aja ya bu?” perawat mendorong bed ku keluar ruang IGD menuju kamar. Aku mengangguk lemah bagai tak berdaya. Padahal 100% sehat kecuali catéter ini yang Amat Sangat menggangguku.

Lama kami menunggu di kamar. Gelisah melanda. Jam tujuh sudah, Belum ada tanda tanda operasi bakal dimulai. Kanjeng menyuruhku menghubungi Dokter kandungan yang akan mengoperasi. Hampir setengah jam aku menimbang nimbang ponselku. Antara ya dan tidak, antara ragu dan malu. Akhirnya aku memberanikan mengirim sms ke si Dokter

“DOKTER, SAYA JADI SC JAM 7 DI YMC GA? NUNIK”

‘Derrr…derr..derr..der.. hp ku berbunyi . keluar tulisan : message not delivered to 081XXXXXXXXX. Thanx God, aku malah merasa lega sms ku ga sampai. Aku masih menghela nafas lega ketika seorang perawat masuk membawa kursi roda. “Ayo bu, ke ruang OK!”

Aku turun dari tempat tidur sambil memegangi kateter. Perawat membantuku memegang infus, dan menyuruh Kanjeng menyiapkan perlengkapan untukku dan baby kami sehabis operasi.

Dulu waktu kat lahir perpindahanku dari kamar ke ruang operasi pake tempat tidur, sekarang karena aku dalam kondisi sehat cukup pake kursi roda. Agak lama aku menunggu di ruang operasi. Menunggu mereka menyiapkan segalanya. Aku sendiri duduk di kursi roda, mengawasi perawat berseliweran. Jantungku dag dig dug kencang ga karuan. Ada banyak kemungkinan di depan. aku berharap terbaik untukku dan keluargaku. Aku bukannya takut mati, tapi aku masih ingin melihat senyum kat. Aku juga berharap bayi yang nanti keluar sehat dan baik baik saja. Aku menundukan kepala. Memohon pada Tuhan berulang-ulang dalam hati.

Semuanya siap, aku dipindah ke bed operasi. Tiga lampu di besar atasku. Jantungku berdetak lebih kencang lagi. Walo ini bukan yang pertama, tapi entah kenapa mentalku lebih siap yang sebelum ini. Petugas anastesi menghampiriku.

“Duduk ya bu, mau di bius” katanya

“Oc” aku langsung bangun dan duduk. Tanganku menggapai mencari pegangan. Seorang petugas mengerti maksudku. Dia memegangi tanganku. Cesss.. rasa dingin di punggungku. Cairan antiseptik di oleskan di sekitar area yang mau di suntik. Dan JLep.. Auw.. aku menahan jeritan dalam mulutku. Sakit, kalo dulu aku ga merasa sakit. Karena rasa mules mengalahkan segalanya. Kalo yang ini, bener dah,. Orang sehat dibikin sakit.

Aku berbaring lagi. Dari dada ke bawah aku mulai berasa aneh. Aku menggerakkan kakiku, ‘masih bisa’. Aku gerakkan lagi ‘masih bisa’, aku mulai berpikir yang tidak tidak. Jangan-jangan bius tadi kerjanya gak optimal, terus pas perutku di iris aku bakal ngrasa sakit luar biasa. Auwww, membayangkan saja aku sudah merasa sakit luar biasa. Detak jantungku makin kencang. Ah, biasanya sebelum operasi mereka pasti menyuruhku menggerakkan kaki, mereka bakal memastikan apa biusnya sudah bekerja atau belum. Aku mulai tenang.

Dokter dokter dan perawat siap di tempat operasi. Seseorang memasang penghalang di atas dadaku agar aku tidak melihat jalannya operasi. aku melirik ke atas, aku sebenarnya bisa sedikit mencuri lihat apa yang mereka lakukan di perutku dari lampu operasi. tapi aku tidak seberani itu kawan. Aku takut trauma dan gak doyan makan tujuh turunan setelahnya. Aku melirik lagi ke atas. Sepertinya mereka sudah mulai bekerja. ‘Hey, mereka lupa menyuruhku menggerakkan kaki untuk memastikan biusku bekerja atau tidak’aku berteriak dalam hati. Aku menggoyangkan kakiku sekuat tenaga. Berharap salah satu dari mereka melihatnya misal masih ada gerakan.

To BE CONTINUE

Read More...

KAt (Refil asi)

KMaren malem slagi pules2nya tidur, aku merasa ada yg basah di dadaku. aku terbangun . menahan senyum melihat tingkah kat. satu tanganya memegang gelas air putih, tangan yg laen dicelupin di gelas itu, kmudian di oles oles di dadaku. kmudian dia nenen. hal itu dia ulangi lagi. aku tak tahan sgera memeluknya. mungkin kat pngen nenen, tp ASI ku sdah ga ada. jadi kat mencoba mengisinya dgn air putih. I Proud of u maisan
Read More...

dan lahirlah katara bukan kinnara part #7

*Targetku, sebelum adeknya kat lahir, cerita ini tamat. Tapi mood ini muncul tanpa kita tahu waktunya*.

Besoknya dari karang kami ke Bandar Jaya. Temenku bilang turun aja di masjid istiqlal depan pasar Bandar jaya, kalo sudah nyampe situ telp. Ancer-ancer yang gampang dan mudah di ingat.

Setelah sampai bandar kami di kenalin dengan ortu temenku. Mereka heran, bahwa kami tidak punya tujuan pasti dan tidak ada saudara di sini. Ketika di tanya kenapa memilih Lampung, kami bilang karena lampung itu udah luar jawa. Dan bekal kami Cuma sampai lampung. Mungkin kalo ada bekal lebih banyak kami bisa sampai batam.

Ortu temenku (pak Haji) menyuruh kami tinggal di rumahnya sambil mencarikan posisi yang pas buat kami. singkat cerita, kami pindah dari karang ke rumah temenku di bandar jaya. Kebetulan apotek temenku baru buka, jadi aku bekerja di situ. Sedang say kerja di dealer tempat suaminya.
Kebetulan temenku juga lagi hamil, selisih dua bulan dengan kehamilanku. Jadi kami bisa rujakan bareng, baca buku2 tentang kehamilan dan saling curhat tentang keluhan – keluhan kami selama hamil.

Ketika temenku lahiran, kehamilanku udah usia tujuh bulan. kami berencana untuk mengontrak rumah. Karena rikuh dan gak enak jika selamanya harus nebeng. Makan gratis dan segalanya gratis. Setelah mendapat rumah yang cocok walo agak masuk kampung, kami menyampaikan hal ini ke Pak Haji. Ternyata pak haji tidak memperbolehkan kami mengontrak rumah. Alasannya masuk di akal. Pertama, kalo mengontrak kami harus mengeluarkan duit lebih, kedua tempatnya jauh dari tempat kerja kami. ”nanti bapak cari tempat yang pas, jangan ngontrak dulu” kata beliau.

Pak Haji merehab salah satu rumahnya yang kosong.menyuruh tukang merapikannya. Dan yang membuat kami terharu, dipasang juga pompa air sehingga kami tidak perlu menimba. Bu Haji menyuruhku ke toko pecah belah dan toko mebelnya untuk melengkapi keperluan kami. “Bayarnya di cicil kalo sudah ada mbak, saya udah telp karyawan di toko”.

Pertama aku ke toko pecah belah. Aku pikir pasti hampir sejutaan buat beli perabotan dapur. Ternyata kami di kasih harga amat miring. Bermacam perabot termasuk kompor minyak, panci wajan, piring , gelas, sendok , garpu, ember, lap, sapu, pel, kursi kecil, telnan, piso, rak piring, gayung, bak, toples, pengki, galon, pompa galon, irus, sutil, sikat wc, setrika, spon, sikat cuci, sendok kayu, dll Cuma habis 349000. amat sangat murah. Aku masih menyimpan nota bertanggal 12 juli 2008 itu, yang juga hari pertama kami menempati rumah ini.

Kemudian aku ke toko mebel. Yang kami butuhkan Cuma lemari dan kasur. Untuk menghemat budget, kami kami tidak memakai tempat tidur. Tapi Bu Haji menelponku
Dan menerangkan bahwa untuk orang setelah melahirkan, dari berdiri dan kemudian tidur di bawah atau duduk di bawah itu susah. Jadi harus pake tempat tidur. ”kalo uangnya belum ada bayar belakangan gpp mbak”

To be continue
Read More...

dan lahirlah katara bukan kinnara #6

tempat kos kami di bandar lampung adalah tempat kos yang nyaman dan bersih. memang tidak ada perabotan laen selain kasur dan bantal. tapi itu cukup buat kami. yang membuat say tertarik adalah kos itu juga menyediakan dapur buat bersama. karena yang dipikirkan say jika ada dapur tentu dia bisa bikin susu hamil untukku dan untuk bayi dalam perutku.

karena kami belum sempet ke atm, maka kami tidak langsung melunasi sewa kos. kami membayar sepertiga dari uang sewa satu bulan. selama tiga hari yang kami lakukan adalah jalan mencari peluang yang bisa menghasilkan, maen ke pangkalan mie ayam mas yanto. kalo dipikir keadaanya serba kekurangan, duit makin menipis, tapi kami mencoba menikmatinya.

untuk makan kami menemukan warung nasi padang yang bungkusannya buanyaaaaaak banget. dimakan berdua pun kami kadang tidak sanggup menghabiskanyya. say juga mau bantuin yuci. pokoknya biarpun pas pasan tapi menyisakan banyak kenangan manis di memoriku.

tiga hari di kosan aku mencoba menghubungi temen kuliahku. ternyata dia gak tinggal di bandar lampung tapi di luar kota yaitu bandar jaya. aku menanyakan apa ada peluang untuk aku dan suamiku. karena dia tau basic ku maka aku cuma promosi tentang suamiku. bisa komputer, nyetir n mau kerja apa aja.
temenku bilang baru buka apotek, tapi uadah ada apotekernya. aku jawab kalo aku ga perlu jadi apoteker, jaga wartel juga gpp.

ga berapa lama temenku menjawab lewat sms 'ya udah, kebandar jaya aja ketemu bapakku.".. yeeee!!!!kami berjingklakan membaca sms itu. setidaknya ada harapan untuk menyambung hidup kami.

to be continue
Read More...

Dan lahirlah Katara bukan Kinnara part #4 & #5

Setelah kenalan kami di kapal turun terlebih dahulu (di daerah Panjang) kami bingung nantinya turun dimana. terus sampai Raja Basa atau Turun di tempat paling deket dengan jalur angkot ke pusat kota. Atas nasihat kondektur bis, kami turun di Perempatan Kalibalok. Menjejakkan kaki pertama di propinsi lampung selain di pelabuhan. tanpa di komando kami langsung menuju bangku tukang mie ayam di deket pom bensin Kali balok.
Memesan mie. cape laper plus bingung setelahnya mau kemana. hari sudah sore. menjelang maghrib. sambil menikmati mie ayam kami ngobrol. akhirnya kami cerita bahwa ini pertama kalinya kami di lampung. KAmi juga bertanya barangkali dia punya informasi tentang kos yang aman dan murah.
Bapak mie ayam bilang, "kalo udah malem susah cari kos, mendingan besok pagi saya anter" kami menurut aja. mungkin dia tahu kebingungan kami. dia bilang lagi
"ntar malem nginep tempat saya ga papa, dari pada di hotel mahal".
Plong.. kami lega, setidaknya malam nanti sudah ada pandangan tidur dimana.
Selesai makan mie, kami permisi mau jalan ke pusat kota membeli keperluan kami, sekalian nyari kos.
Bapak itu sungguh baik ia bilang "Ia, nyari dulu, ntar kalo sampe malam belum dapet, balik sini lagi ya".

Sebelum jalan kami ke wc umum di pom bnesin tersebut. ada musolla kecil sepi. aku masuk.
say bertanya, mau ngapain? "sholat". "emang bawa mukena??". aku mengeluarkan, mukena dari dalam tasku. tas ranselku cuma berisi satu setel pakaian ganti, handuk dan mukena. minimalis.
"mas sholat juga ya??". menunggu say selesai sholat, aku ke kamar mandi. keluar dari kamar mandi aku kembali ke mushola. aku melihat say, matanya berkaca-kaca.
"napa mas??"
"aku lupa tahyat akhirnya".. aku membaca bacaan tahyat akhir, say mengikuti kemudian mengulangi
sholatnya. selesai, dia berdoa, matanya teap berkaca-kaca. Aku melihat wajah say paling indah selama aku mengenal dan bersamanya. wajah yang penuh pengabdian tulus kepada Allah.

Kami naek angkot ke Ramayana. Aku mencari perlengkapan mandi setelah selesai aku bertemu say, dia membawa 1 kotak lactamil dan teko pemanas air. Aku terharu, dalam keterbatasan kami, say tetep memprioritaskan aku dan bayi di perutku. keluar dari ramayana, kami mencari angkot kembali ke tempat tukang mie ayam tadi. niatnya mau cari kos di sekitar situ. BUT.. kami lupa, lokasi tadi namanya apa. bener lupa. Kami ke pos polisi. Pertanyaan kami juga sungguh bodoh "Pak, pertigaan antara bakauheni rajabasa yang ke arah tanjung karang namanya apa??? Pak polisi tambah bingung dengan pertanyaan kami. kami juga bingung. Akhirnya aku inget, di depan pom bensin itu ada hotel namanya hotel nusantara. polisi itu berpikir lama, nanya ke temen temennya dan di bilang "Kali balok?" "YAK!!!"

Sampai kembali di tempat tukang mie ayam, dagangannya sudah hampir habis. Dia mengenalkan kami ke temen temennya yang berjualan di deketnya. mereka semua baik. Salah satu temennya, Pak gendut bilang," ntar dari pada nginep tempat mas yanto(Bpk mie ayam), di rumah saya aja, ada kamar kosong". Kami bahagia dengan keramahan dan ketulusan mereka. bahkan Pak bambang (pedaganng asongan) menyuruh istrinya mengantar kami mencari kos. kami menurut aja. saat itu sudah jam 10 malam. Bu bambang mengetuk rumah2 di lingkungan tempat tinggalnya yang kira kira masih terima kos. ternyata sudah terisi semua. salah satu yang masih kosong empunya rumah tidak ada, kami harus kembali besoknya.
Kembali ke kumpulan pedagang tadi sambil bilang bahwa tidak dapet kos.. Hasil rembugan kami dan para pedagang, kami menginap ditempat pak Gendut. saat itu aku bener bener melihat orang orang tulus tulus tulus. mereka tidak mengenal kami tapi mau menolong kami tanpa pamrih.. bahkan pak gendut meninggalkan dagangannya sebentar dan mengantarkan kami ke rumahnya. Dia kembali ke lagi ke dagangannya setelah memperkenalkan kami pada istrinya dan bilang bahwa kami mau menginap.

to be continue
Read More...

dan lahirlah katara bukan kinnara part #3

jam 4 pagi kami sampai stasiun senen. biar pagi suasana ramai. jakarta sibuk. kami jelan kaki ke terminal senin dan di terminal itu kami memutuskan lampung sebagai tujuan kami. di situ kami mandi, dan say membeli bebyerapa majalah trubus di toko buku. barang bekas tapi masih bisa di baca. ada segudang rencana di dalam pikiran kami. entah mau jualan
buah atau mau jadi petani.
Dari terminal senin kami lanjut ke terminal pulo gadung. sarapan pagi kami di terminal ini. kami mencari bis tujuan merak. Lumayan, akhirnya dapat bis AC setelah dari awal perjalanan kami selalu pake yg eko.
sampai merak kami langsung dapat kapal yang membawa kami menyeberang ke bakauheni. kami bingung, sesampai di sebrang kota mana yang kami tuju. dari referensi kenalan kami di atas kapal, kami memilih tanjung karang. alasannya, tempat itu di ibukota propinsi lampung, yaitu bandar lampung. segala yang kami butuhkan pasti ada, terutama untuk calon baby kami.
to be ontinue
Read More...

Dan lahirlah katara bkn kinnara part 2

Di dlm kereta ekonomi sungguh mengerikan. Lampu mati, kaca jendela byk yg pecah. Untuk mendapatkan t4 duduk, harus punya modal muka seram!!!!!
Read More...

Dan lahirlah katara bukan kinnara

Perjalanan dmulai dr pkalongan. Sampai pkalongan kami bngung, kemana tujuan kami. Mau ke arah timur atau ke barat. Mau ke bali atau ke batam. Akhirnya kami memutuskan ke jakarta. Sampai jakarta kita bisa ambil keputusan lagi. Aku dtemani suamiku tentu saja kat di dalam perutku memutuskan naek kereta ekonomi yg berangkat jam 11 mlm jurusan senen. Kami harus menghemat makanya naek krt eko. Itu pertama kalinya, membayangkan saja ga enak. Apalagi kondisiku lemah krn lg hamil . To be continue
Read More...

Video Gallery